Tersesat yang Membawa Berkat

Menjadi seorang dokter adalah keinginannya sejak kecil. Dr Adi Prasetyo, Sp.PD. Gelar dokter spesialis menjadikan status sosialnya meroket.

Dokter Adi bekerja di  salah satu rumah sakit ternama. Gajinya melonjak terus. Ia banyak diundang di berbagai seminar. Ia menjadi orang penting di dunianya.

Satu kali, Dokter Adi duduk dalam pesawat. Ia akan menghadiri pertemuan dokter-dokter untuk membahas suatu penelitian besar.

Tiba-tiba terdengar informasi terjadi cuaca buruk. Penumpang diminta tenang dan mengenakan sabuk pengaman. Akhirnya diumumkan, pesawat segera mendarat di bandara terdekat demi alasan keamanan.

 “Ini yang paling aku benci,” gerutunya dalam hati. Gangguan seperti ini membuat jadwalnya berantakan. “Berapa lama kami harus menunggu, Mbak?” tanyanya pada seorang pramugari.  

“Sepertinya agak lama, Pak. Cuaca sangat tidak memungkinkan. Jika bapak memang sangat terburu-buru, kami sarankan menyewa mobil untuk tujuan bapak,” kata sang pramugari.

   Dokter Adi melesat dengan mobil sewaan. Setelah 3 jam berlalu, ia makin khawatir. Seharusnya ia sudah sampai tujuan. Mobil melaju di jalan kecil. Jarak pandang terbatas lantaran hujan sangat deras. Sopir sudah kewalahan. Akhirnya diputuskan mencari rumah penduduk guna beristirahat.

“Maaf, Nek, bolehkah kami menumpang istirahat sejenak? Kami tersesat, cuaca sangat buruk,” tanya Dokter Adi pada seorang nenek bermukenah dengan tasbih di jemarinya.

Si nenek menebar senyum. Sudah lama rumah kecilnya tidak pernah dikunjungi tamu. Teh hangat dan pisang goreng disuguhkan. “Sebentar, ya Nak, saya mau sholat dulu,” ucapnya.

Dokter Adi makin gelisah. Pertemuan dengan dokter-dokter sudah tidak mungkin dihadiri. Ia mondar-mandir di ruang tamu. Tiba-tiba matanya menemukan sebingkai foto keluarga  yang menggantung di dinding. Matanya memfokus pada sosok anak kecil berbaju dokter yang tampak kedodoran di tubuh kurusnya. Tertulis di bagian bawah foto “Karnaval HUT RI ke-68 ”.

“Itu foto Amir, cucu saya satu-satunya. Orangtuanya sudah lama tidak pulang, menjadi TKW di Saudi sana,” suara si nenek mengejutkan Dokter Adi. “Amir bercita-cita jadi dokter. Biar bisa menolong orang kecil seperti  dirinya, katanya,” lanjutnya.

“Jam segini Amirnya ke mana, Nek?” Dokter Adi ingin tahu.

“Ada di kamar. Mari, Nak,” ajak si nenek.

Kamar itu sebetulnya hanya ruangan yang diberi penyekat saja. Di atas ranjang kayu tak berkasur tampak seorang anak usia 10 tahun sedang tertidur pulas. “Dia sedang sakit. Saya sudah membawanya ke puskesmas namun disarankan rujuk ke rumah sakit di kota, tapi saya tidak punya uang.”

Dokter Adi mendekati Amir yang tergolek lemah. Disentuhnya kening anak itu. ”Hampir dua minggu Amir demam,” jelas si nenek.

Batin Dokter Adi gelisah menimbang-nimbang, antara tidak ingin mencampuri urusan orang lain dan kebutuhan secepat mungkin melanjutkan perjalanan.  “Toh si nenek tidak tahu kalau aku ini seorang dokter, jadi tidak ada masalah jika aku berlalu dari sini. Bisa saja aku berlalu dari sini, toh aku tidak akan pernah kembali lagi ke sini. Atau..., aku bisa melanjutkan perjalanan dan mengirimkan bantuan segera setelah aku tiba nanti.” 

Sambil mencoba menenangkan batinnya, Dokter Adi kembali ke ruang tamu. Entah kenapa hatinya tertarik untuk mengamati foto tadi.

Foto itu mengingatkan masa kecilnya. Di album foto keluarga masih tersimpan foto-foto masa kecilnya. Potret saat dia mengenakan busana dokter kecil ketika masih kelas 3 SD. Kini, sudah 30 tahun berlalu. Sekarang Adi kecil sudah menjadi seorang Dr Adi Prasetyo, Sp.PD. Dokter ternama dengan seabreg jabatan.

Cita-citanya sebagai dokter tumbuh dari panggilan hatinya untuk menolong orang yang membutuhkan. Idealisme pengabdian sebagai dokter begitu kuat dirasakan. Entah kenapa beberapa tahun ini, tanpa disadari panggilannya mulai bergeser. Ketenaran meluluhkan idealismenya. Rupiah selalu menjadi tolok ukur kesepakatan awal pelayanan. Ohhh....

Lamunan Dokter Adi pecah oleh sayup doa si nenek di hadapan cucunya. “Ya Allah, terima kasih atas segala rejeki-Mu. Ampunilah dosa hamba dan keluarga hamba. Ya Allah, hamba khusus berdoa untuk cucu hamba yang sedang tidak berdaya. Angkatlah segala penyakitnya, permudahlah pengobatannya! Kasihanilah dia, ya Allah.... Amin.”

Pikiran Dokter Adi terbuka. Ada badai, pesawatnya terpaksa mendarat. Kemudian, dia harus tersesat di desa ini dan bertemu dengan nenek beserta cucunya. Tuhan punya rencana di balik itu semua. Ada satu jiwa yang membutuhkan pertolongan. Ternyata, Tuhanlah yang mengirimnya untuk menjumpai si nenek dan cucunya.

“Nek, silakan berkemas dan ikut saya. Saya seorang dokter. Saya akan  bawa Amir ke rumah sakit agar dapat diobati sampai sembuh.” (Defi)

Baca juga:

Manfaat Buah Pisang | 24 November 2014 - 11:05:23 WIB
Salam dari saya Blogger pemula

Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: