I00I Alasan Perlunya Berkoperasi

Pastilah kita sulit mengingat-ingat, kapan kata “koperasi” pertama kali pernah kita dengar. Kita mungkin juga kesulitan mencari jawab apa itu koperasi, lalu mengapa kita berkoperasi?

Sejarah menceritakan kepada kita, kesulitan ekonomi dan permasalahan social melatar belakangi asal-muasal adanya koperasi.

Kesulitan memenuhi kebutuhan pangan di Rochdale, Inggris, pada awal abad ke-19 mendorong munculnya kerjasama di antara warga masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Barang yang mereka produksi biasa dijual dengan harga pantas. Sementara barang yang mereka butuhkan dapat diperoleh dengan harga lebih murah dan kualitas yang lebih baik.

 

Beda CU

Waktu itu terjadi kesulitan ekonomi. Barang produksi pertanian, terutama kapas, dibeli oleh pengusaha dengan harga murah. Sementara para petani membeli bahan pangan, gandum dan gula berkualitas buruk,  dengan harga mahal. Jelas! Yang kaya makin kaya, yang miskin, petani misalnya, tetaplah miskin. Inilah permasalahan sosialnya.

Menyadari itu, mereka bersepakat mengumpulkan modal. Mereka mengusahakan bersama pemintalan kapas, bahkan akhirnya membuat usaha penenunan sendiri.

Untuk membeli barang konsumsi pun mereka mengumpulkan uang dan membelinya bersama. Usaha tenun memakai modal mereka sendiri. Semua dikelola dan dikendalikan sendiri. Dengan hasil dan bagi hasil yang mereka tetapkan sendiri itulah yang mereka namakan Cooperative Enterprise.

Koperasi Kredit, Credit Union, memiliki sejarah mirip. Hanya, Credit Union berasal dari Jerman.

Credit Union memilih usaha simpan dan pinjam dari antara para anggotanya. Orang berkumpul, bersepakat mengumpulkan modal dan dipakai bergantian di antara mereka. Pengguna modal, peminjam, memberikan kompensasi yang mereka sepakati atas modal yang mereka pakai.

Mereka juga mengelola, mengendalikan, dan menetapkan besaran hasil dan bagi hasil di antara mereka.

Dalam cara yang demikianlah Credit Union dimengerti sebagai kumpulan orang-orang yang saling percaya untuk bekerjasama. Kerjasama yang tidak didasari sikap saling percaya tidak akan pernah melembaga. Hanya kerjasama yang termekanisasi, memiliki sistem yang berpedoman pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip, bisa disebut cooperative enterprise.

 

Kata mereka

Setelah sejenak menyimak karakteristik koperasi, kini kita perlu tahu paham masyarakat tentang koperasi.

“(Koperasi itu) bisa mewadahi, bisa menjadi benteng kebutuhan uang, bisa melindungi dari tawaran luar yang mungkin bisa menjerat,” tutur Sri Wahyuni, anggota CU Mandiri yang memiliki usaha catering.

“(Koperasi) adalah sekumpulan orang yang mempunyai rasa kebersamaan untuk dapat meningkatkan taraf hidup dengan berazaskan Pancasila dan gotong royong serta kekeluargaan,” tukas Teguh Suhariyono, seorang anggota CU Mandiri  yang berprofesi sebagai sales.

Sementara Supriyatin menambahkan, “Koperasi, jika menganut system seperti CU Mandiri, akan sangat bagus karena sangat terbuka terhadap anggota, seperti pengelolaan keuangan yang bermodal kejujuran.”

Itu tadi tuturan dari mereka yang mengenal dan menjadi anggota CU Mandiri. Lalu, apa yang kata warga yang belum menjadi anggota CU Mandiri?

“Koperasi adalah tempat orang-orang menyimpan dan meminjam, enak dan cocok,” kata penjual gorengan Supinah.

Sementara Anthonia Nani, seorang karyawan swasta berpendapat,  “Orang bisa belajar untuk mengatur masa depan melalui menyimpan dan meminjam sehingga kehidupannya, terutama ekonomi, bisa meningkat.”

Dari beberapa tuturan di atas, baik yang sudah maupun belum menjadi anggota CU Mandiri, tersirat suatu kesadaran ingin menjadikan koperasi sebagai sarana menuju ke kehidupan yang lebih sejahtera, dengan dan bersama orang lain.

 

Yang khas

Ada yang menyebut, koperasi lebih identik dengan pinjaman dan simpanan. “Tapi lebih diutamakan pada produk simpanan karena tepat untuk investasi jangka panjang,” jelas Ria.

Sebagai bentuk lembaga keuangan, koperasi sering dibandingkan dengan bank atau lembaga keuangan lain. Ini tak terhindarkan karena produk dan layanan keduanya nyaris sama. “Koperasi hampir sama dengan bank, tapi CU beda karena tidak ada potongan administrasi,” ungkap Wuwuk.

Kendati begitu, koperasi tetaplah memiliki nilai lebih.“Koperasi, sebagai ajang menyimpan dan menitipkan uang, melakukan pelayanan (dengan model) jemput bola. (Dengan cara tersebut), anggota sangat dimudahkan,” kata Gracia, seorang pedagang yang juga anggota koperasi.

Koperasi adalah milik anggota dengan tujuan utama kesejahteraan bersama. Hal ini, misalnya disebut oleh karyawan CU Mandiri, Desi dan Choirul. Sesungguhnya, koperasi selalu merupakan “dari, oleh, dan untuk anggota”. Hanya, pada perkembangannya, banyak koperasi yang tidak menganut azas ini. Misalnya, bukan sistem keanggotaan tetapi nasabah, tidak ada Rapat Anggota Tahunan (RAT), dan lain-lain.

Kepemilikan koperasi mengandung arti bahwa anggota koperasi adalah penyedia modal, pengelola sekaligus pengguna produk dan layanan koperasinya. Dan, arah kepemilikan tersebut ialah ‘hidup lebih baik’, khususnya secara ekonomi.

Dalam mengupayakan hidup yang lebih baik melalui produk dan layanan bagi para anggotanya, koperasi selalu menjunjung tinggi kedaulatan anggota, nilai menolong diri sendiri, bertanggungjawab terhadap diri sendiri, peduli sesama, kesetaraan, kejujuran, dan keswadayaan.

Praktik kerjasama dengan yang lain pun dimengerti sebagai upaya menolong diri sendiri. Sebab, menolong diri sendiri adalah wujud tanggungjawab kita demi membangun diri yang berkarakter dan berpengaruh positif bagi yang lain.

 

Cooperative Enterprise dan Cooperative Business di Indonesia diadopsi menjadi Koperasi. Ini dimaksudkan agar orang bekerjasama atas dasar solidaritas, swadaya, swakelola dalam menciptakan kesejahteraan.

Diharapkan, kerjasama bisa terus berkesinambungan dan Koperasi tetap hidup. Maka, dalam penyelenggaraannya, koperasi dituntut mampu menumbuh kembangkan orang-orang yang bekerjasama di dalamnya.

Dikoperasilah orang mendapat tempat untuk belajar menjadi lebih baik, lebih disiplin, lebih bertanggungjawab, lebih peduli terhadap orang lain, lebih menghargai orang lain.

Dengan lebih disiplin dalam menyimpan dan mengangsur pinjaman di koperasi, kita sebenarnya sedang membiasakan diri menolong diri sendiri, bertanggungjawab terhadap diri sendiri, sekaligus menolong orang lain, tanpa kehilangan serupiah pun! (Haryono Daud)

Baca juga:

custom essay writing service | 02 Mei 2017 - 13:47:41 WIB
I am very happy to read this post. I must apprecas

Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: