Yang Miskin yang Berkelimpahan

Pagi itu hujan gerimis. Terlihat seorang ibu,dengan caping lebar menutupikepalanya,sedang menyapu jalan. Saya mendekati ibu tersebut, menyapa, “Gerimis-gerimis begini koknyapu, Bu?”

“Iya, Neng, biar gak mampet,”timpalnya seraya tersenyum. Si ibu tampaksenang, mungkinmerasa bangga karena ada orang yang menyapa.

Sambil meneruskan perjalanan, hatisaya masih berdecak kagum melihat pemandangan tadi. Luar biasa, ucapku pada teman yang bersamaku. Di zaman ini ternyata masih ada orang yang berpegang pada komitmen demi hidup bersama yang lebih baik.

Di mata saya, ibu tadi telah memberi pelajaran berharga tentang pentingnya sebuah komitmen. Komitmen yang didasari oleh sebuah kepedulian bahwa kesediaannya menyapu jalanan kota, meskipun tengah hujan gerimis,merupakan sebuah bentuk kepeduliannya pada sesama agar tidak terjadi banjir yang disebabkan selokan macet karenatersumbat sampah.

Satu kata, Peduli!

Demikian saya menegaskan pengalaman pagi itu. Pengalaman yang menginspirasi untuk masuk pada suatu refleksi yang mendalam: Bisakah kepeduliansemacam inimewujud dalam kehidupan bersama, lalu menjadi gerakan bersama yang terus disuarakan dan dibagikan?

 

Menjadi sesama

Dalam sebuah perbincangan, seorang temanmembagikan keyakinannyasoal rasa peduli. Menurutnya, rasa peduli membuat kita merasa memiliki sesama. “Rasa peduli membuat kemanusiaan kita mudah tersentuh untuk berbuat sesuatu yang konkret. Ia memberanikan kita mengambil peran nyataketika hidup kita bersinggungan dengan orang lain,” tandasnya.

Dari keyakinan teman tersebut, saya boleh belajar bahwa basis dari gerakan peduli sosial adalah pelayanan. Pelayanan ini didasari oleh tanggungjawab bahwa manusia memiliki hak yang sama dalam hal hidup sejahtera. Di sinilah, peduli berarti melayani.

Selanjutnya, dengan kesediaan melayani kita mau belajar menjadi sesama bagi orang lain. Dalam arti ini, menjadi sesama bukan karena alasan transaksional,sekadar menakar perolehan untung-rugi. Sebab, sesama tak bisa diukur dari status sosial, melainkan karena sedari lahirkita diciptakan sebagai pribadi yang memiliki harkat dan martabat yang sama.

Rasa saling memiliki satu sama lain akan berdaya sekali dalam mengikis kesenjangan sosial yang ada. Kita bisa belajar dari orang-orang yang oleh status sosial tertentu dikatakan sebagai orang kecil. Dalam pengertian inilah kehendak untuk berbagi, peduli, dan menghargai sesama secara bermartabat bisa kita wujudkan.

 

Kebijakan lokal

“Bisa hidup dengan saling berbagi itu membahagiakan,”kata Ari suatu kali.

Ari menyebut, kebahagiaan itu akan menjadi lebih istimewa ketika ia bisa berbuat sesuatu untuk orang kecil. Baginya, menyukakan kalau bisadekat dan menjadi sahabat bagi mereka.

Bahkan, lanjutnya, pengalaman bersentuhan dengan orang kecil telah turutmengubah hidupnya. Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap orang kecil.

Ketika kita memposisikan orang lain sebagai orang kecil, yang terjadi adalah kecenderungan untuk “memberi”. Padahal, sejatinya, orang kecillah yang mengajari kita arti mendalam dari “memberi dengan tulus”.

Ari mencontohkanperjumpaannya dengan penjual dawet Subroto. Kesetiaan Broto menjumpai pembeli membuatnya memiliki pelanggan tetap.

Pagi itu, Ari menemani Broto berjualan dawet. Ia mengikuti kemana saja langkah Broto menuju, ke tempat-tempat ia biasa berhenti untuk melayani pelanggannya.

Dua bungkus, tiga bungkus, dan semua adalah orang-orang yang setia membeli dawet buatannya. Sampai akhirnya di tengah perjalanan, seorang ibu pengendara mobil berhenti. Ia bermaksud membeli semua dawet jualan Broto. Apa yang terjadi? Broto menolak menjual semua dawetnya. Ia mengatakan dengan sopan bahwapelanggannya sudah menunggu dawetnya.

Ari merasa janggal. Jualan mau dibeli kok ditolak? Mengapa Broto tidak membiarkan si ibu itu memborong habis dawetnya, lalu ia bisa pulang lebih awal ke rumah sembari mengantungi rejekinya?

Kepalanya berpikir keras melihat kejadian itu. Akhirnya, ia menemukan jawabannya.

Penjual dawet Subroto, yang menurut status sosial dikategorikan sebagai orang kecil, sebagai pribadi ternyata ia seorang yang berpunya. Ia lebih memilih untuk melayani orang-orang yang membeli hanya dua atau tiga bungkus dawetnya, namun mereka tetap setia menjadi pelanggannya daripada sekadar mengejar keuntungan sesaat.

Setia kepada pelanggan meski kecil keuntungan yang didapat telah mengajarkan kepadanya arti menjadi sesama. Inilah kebijakan lokal dari seorang Subroto, penjual dawet keliling.

 

Sekolah hidup

CU Mandiri telah meletakkan fondasinya untuk membangun kepedulian sosial. Tujuannya, menjadikan semua orang sebagai sahabat.

Menjadikan sesama sebagai sahabat dibutuhkan empati dan keberanian untuk keluar dari diri sendiri. Artinya, kehadiran kita dalam membangun relasi persahabatan bukan untuk mencari keuntungan diri.

Dengan menjadi sahabat berarti kita mau belajar menempatkan diri sebagai pribadi yang terbuka, lebih-lebih kehendak kuat untuk belajar “mendengarkan”.

Tentu ini tidaklah mudah! Sebab,dalam keseharian, kita cenderung banyak omong daripada mendengarkan.

Kita dianugerahi dua telinga dan satu mulut. Itu berartikita perlu lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Di sinilah pembelajaran hidup yang bisa kita peroleh melalui orang-orang di sekitar kita. Di sinilah cara kita membangun persahabatan.

Jika membangun persahabatan menjadi kebutuhan seluruh insan CU Mandiri, tentu pemberdayaan manusia berbasis komunitas akan menjadi langkah yang mudah untuk dilakukan. Sebab, pola hidup ini menjadikan orang lain sebagai pribadi yang berharga, sebagai yang terpenting.

Dengan jalan hidup inilah, CU Mandiri akan sungguh-sungguh dirasakan sebagai komunitas pemberdayaan hidup. CU menjadi sekolah kehidupan bagi setiap anggota.

“Tak perlu risau! Dengan banyak memberi, kita takkan menjadiberkekurangan.Sebab, kekurangan kita akan dilengkapi oleh Sang Pemberi hidup,” ungkap seorang anggota. (Tim Media).

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: