Dengan Nama Bejo Kutitipkan Mimpi

Duduk di bangku deretan kedua, Bejo mengamati bagaimana wajah ceria teman-temannya menanti sang rektor memindahkan tali toga. Sementara Bejo, dirinya merasa sedikit tegang menunggu namanya dipanggil. Ia menoleh ke arah ayahnya yang duduk tidak jauh darinya.

Ayahnya termangu memendam rasa. Raut wajahnya menyiratkan syukur berbalut bangga. Tanpa ia sadari, kejadian demi kejadian masa lalu singgah di benaknya.

 

Harapan

Dengan segala keterbatasan, ayah Bejo mencoba untuk menjadi seorang bapak yang baik bagi anaknya. Namun, kala itu, ia malu mempunyai ayah yang tidak seperti ayah Roy. Seorang ayah yang selalu mengantar anaknya ke sekolah dengan mengendarai mobil bagus. Atau, tidak seperti ayah Kiki yang memilki rumah bertaman indah. Tidak juga seperti ayah Johny yang selalu berpakaian bagus, rapi, dan wangi.

Ayah Bejo berbeda dari mereka. Ia mengantar Bejo ke sekolah dengan mengendarai sepeda onthel tua. Tampilannya sederhana. Pakaiannya seadanya. Rumah yang mereka naungi terbuat dari kayu tanpa taman bermain. Demikian sederhana keluarga itu, ayahnya sampai memberikan nama untuknya “Bejo”.

“Pak, kenapa namaku Bejo dan bukan Benny atau Boy?” tanyanya.

“Harapan, Nak.... Bapak berharap kamu bisa menjadi orang yang beruntung. Orang pintar masih kalah sama orang bejo,” jelas ayahnya.

“Akh, Bapak ini... seperti iklan obat aja!” timpalnya.

Ayah Bejo memang termasuk orang kuno. Tapi, ia cukup tahu apa yang terbaik bagi anak-anaknya, khususnya dalam hal pendidikan. Untuk yang satu ini, ayahnya memang sangat menaruh perhatian. “Tidak usah risau, tugasmu adalah belajar. Biar bapak yang mencari uang untuk keperluan sekolahmu,” pesan ayahnya.

Pertanyan-pertanyaan selalu ia lontarkan dengan polos. Termasuk sore itu.  Saat itu ayahnya sedang membelah batang bambu, tempat menyimpan uang-uang logam. Celengan, begitu orang desa menyebut tabungan tradisional itu. “Untuk apa uang-uang receh itu, Pak?” tanya Bejo kecil.

“Untuk sekolahmu. Bapak ingin kamu kuliah,  biar tidak seperti bapakmu ini,” jawab ayahnya.

 

Muluk-muluk

Tetangga Bejo geleng-geleng kepala melihat semangat ayahnya. Ada yang takjub. Di zaman yang serbamahal ini masih ada orangtua sederhana yang punya tekad menyekolahkan anaknya sampai jenjang perguruan tinggi. Tak sedikit juga yang mencemooh, “Akh, terlalu memaksakan diri! Hidup saja pas-pasan kok bermimpi terlalu muluk-muluk!”

Di balik cibiran banyak orang, bapaknya  tetap berjalan dengan keyakinan Bejo harus lulus sarjana. “Jo, bapak ingin kamu kuliah dan berhasil, agar kamu bahagia dan berguna. Bapak tidak menghendaki apa-apa. Melihat kamu berhasil, sudah cukup,” ucapnya.

Bertahun-tahun bapaknya menyisihkan sedikit demi sedikit uang. Dan benar! Saat Bejo lulus SMA, ayahnya tidak kebingungan lagi untuk biaya masuk ke perguruan tinggi.

Bejo remaja mulai mengerti maksud dan tujuan ayahnya selama ini. Deretan petuah dari ayahnya terkadang memang membosankan baginya. Tapi tanpa disadari justru itulah yang membuatnya memiliki pegangan seperti sekarang ini. Bejo bersyukur, bangga, dan merasa beruntung memiliki ayah seperti itu.

 

Menggapai mimpi

Bejo sendiri cukup tahu diri dengan kondisi ayahnya. Belajar dan terus fokus membuatnya bisa melalui kuliahnya tepat waktu. Uang receh yang disimpan bapaknya di celengan telah mengantarnya pada gelar Sarjana Ekonomi.

Tidak berhenti di sini saja. Perjuangan tetap berlanjut. Dengan restu ayahnya, beberapa lamaran kerja mulai ia masukkan. Beberapa kali kegagalan sempat membuatnya hampir putus asa. Tapi, mengingat bagaimana perjuangan ayahnya, ia menegakkan kembali langkah kakinya menuju masa depan. “Namaku Bejo, bapakku akan bangga dan beruntung punya anak sepertiku,” tekadnya.

Tak lama berselang dari wisuda, Bejo sudah bekerja di perusahaan ternama. Siang itu terlihat jelas keharuan terpancar di wajah ayahnya. Keletihan yang selama ini tergurat di garis-garis wajahnya tersapu rasa syukur yang teramat dalam. Masih terngiang jelas di telinganya telpon dari anaknya, Bejo. “Pak, nanti gaji pertamaku Bapak akan kuajak makan di restoran. Saya akan kirim uang, Bapak tak usah bekerja lagi, gantian saya yang kerja, ya Pak,” ujarnya.

Bapaknya  hanya bisa menjawab, “Iya, iya....” Bibirnya bergetar oleh ucapan syukur. “Anakku, namanya Bejo. Bejo yang selalu merasa beruntung memiliki bapak sederhana sepertiku. Bejo yang sekarang sudah sarjana dan bekerja di perusahaan besar. Terima kasih, Tuhan....” (Chris)

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: