Perubahan Mental Berbasis "Kita"

"Bila kita saling percaya, dan bekerjasama,

Dalam smangat dan ketekunan, dan KITA BERSATU.

Dan KITA BERSATU…

Dan KITA BERSATU…

Dalam smangat dan ketekunan,

Dan KITA BERSATU.”

 

Itulah lirik Hymne Credit Union. Lagu yang selalu dinyanyikan kalaCU berkegiatan.

“Jika rasa bersatu itu menjadi nilai yang dimiliki oleh semua insan CU Mandiri, ini luar biasa, ini tantangan.Namun, bagaimana mewujudkannya?”kata seorang kawan mengomentari isi hymne tersebut.

 

Jangan selingkuh

Satu kali, saya membuka pertemuan dengan sebuah ilustrasi.

Dulu, ketika CU Mandiri masih kecil dan jumlah anggotanya masih sedikit, semangat kebersatuan itu masih sangat bisa dirasakan. Mengumpulkan anggota masih sangat mudah, mengangkat suatu keprihatinan untuk diperhatikan masih sedemikian gampang. Ya, semua itu mungkin karenamasing-masing anggota masih digerakkan oleh satu visi.

Kini, setelah CU Mandiri berkembang besar dan jumlah anggotanya mencapai 5700 orang, dinamikanya pun berubah. Semangat kebersatuan demi menyangga visi yang sama pun menjadi tantangan tersendiri.

“Lalu,perubahan mental macam apa yang diperlukan agar kita bisa memiliki satu visi?” tanya saya pada sebuah forum kecil di kegiatan pembinaan.

Sejenak suasana menjadi tenang. Ada yang mengetuk-ngetukkanballpointdi meja sambil mengerutkan dahi, seperti sedang berpikir keras. Ada yang membuka-buka buku, mungkin mencari inspirasi. Sementara yang lain, ada yang menyanggakan tangan di dagudan matanya menerawang jauh, ada pula yang sekadar saling mengadu pandang.

Tiba-tiba keheningan pecah. Ada seorang teman angkat bicara, berteriak, “Selingkuh!”

Sontak seluruh mata terarah padanya, diam diliputi keheranan. “Ya, anggota kita ada yang selingkuh!”

Kalimatnya terhenti, ia menyapukan pandang ke teman-temannya, lalu melanjutkan,“Ketika masih kecil, kita mudah untuk bersatu karena yang dipikirkan cuma satu, yakni bagaimana membesarkan CU Mandiri bersama-sama.”

Menurutnya, sekarang orang lebih banyak menuntut dan kecewa karena merasa harapannya di CU tak terpenuhi. Ujung-ujungnya, orang mohon diri keluar dari keanggotaan.

“Itulah akar soalnya! Kita sering lupa, di CU kita ini bukanlah nasabah. Kita adalah anggota sekaligus ‘pemilik’, jadi kita ikut bertanggung jawab atas kembang-kempisnya CU,” pungkasnya.

Wow…, kita adalah anggota sekaligus pemilik CU Mandiri. Rasa diri sebagai anggota dan pemilik itu menyata ketika kita mau terbuka untuk terlibat dan berpartisipasi di dalamnya.

Jika ini disadari bersama, tentu orang akan berpikir ulang untuk keluar dari CU. Kesadaran diri sebagai pemilikakan mendongkrak kreativitas serta melakukan peran secara proporsional dalam mengembangkan CU-nya.

Perubahan mental inilah yang membuat seseorang tidak perlu memposisikan sebagai “aku”atau“kamu”, seolah-olah dirinya ada di luar. Setiap anggota perlu memposisikan diri sebagai “kita”. Sebab, panggilan setiap anggota adalah “menjadi bagian”, menjadi anggota tubuh yang menopang seluruh gerak CU. Dalam gerak irama anggotanya yang sukarela dan terbuka, CU akan menemukan harmoninya.

Sukarela mengisyaratkan seseorang menjadi pemilik yang mampu memerankan fungsi dan tanggungjawabnya secara penuh. Sementara terbukamenyentilkan kebutuhan membuka peluang terhadap inovasi-inovasi baru demimendekatkan diri pada kebutuhan anggota yang semakin cepat dan beragam.

 

Berdarah CU

Apakah Anda sudah mengajak anggota keluarga Andamasuk menjadi anggota CU Mandiri? Apakah Anda sudah berusaha memikat teman, rekan kerja, atau tetangga Anda untuk ‘melirik’ keberadaan CU Mandiri?

Nah, kalau hal tersebut sudah mulai kita lakukan, maka kita bisa disebut sebagai pemilik CU. Bahkan, kita bisa disebut sebagai anggota yang “berdarah CU”. Rasa memiliki selalu disertai dengan tanggung jawab mengembangkan kepemilikan kita.

Hal tersebut penting mengingat tantangan CU ke depan semakin kompleks. CU Mandiri yang terus bertumbuhdiharapkan tidak hanya menjadi lembaga keuangan yang sekadar mentransaksikan uang. Di tengah kompleksitas yang ada, kita ditantang untuk terus menawarkan nilai-nilai kebersamaan.

Bagaimana hal itu dilakukan? Ya, lagi-lagi kita diajak memulai perubahan mental dari “aku” atau “kamu” ke “kita”.

Jika kita menabung, sadarilah bahwa uang yang kita simpan akan bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usahanya. Jika kita meminjam, sadarilah pula bahwa uang yang kita pinjam adalah uang hasil keringat orang-orang kecil yang dikumpulkan dengan susah payah.

Cara-cara sederhana ini jika dilakukan secara bersama-sama akan menumbuhkan gerak kepedulian sosial. Perubahan mental inilahyang dibutuhkan demi membangun kekuatan CU Mandiri.

“Kalau minjam jangan sampai ngemplang (tidak membayar).Itu bisa merugikan orang lain yang sudah menyimpan uangnya di CU,” kata Tiyana yang bekerjasampingan sebagai tukang pijat.

Jika ada temannya yang malas menabung tapi ingin meminjam uang, ia dengan keras mengatakan, “Makanya nabung supaya minjam jadi mudah. Jangan cuma mauminjammelulu! Memangnya ini CU siapa?!”

 

Kader CU

Sudah saatnya CU Mandiri melahirkan kader-kader tangguh yang memiliki kepedulian sosial dan siap berkorban. Jika kader-kader ini muncul di setiap wilayah,maka gerakan 10 ribu anggota tidak perlu harus menunggu tahun 2016.

Pengorbanan tidak perlu muluk-muluk. Langkah sederhana, seperti yang dilakukan Tiyana, yang dilakukan oleh semua kader pasti akan membawa perubahan yang menggairahkan. Ibaratnya garam yang menggarami masakan. Sedikit saja garam dicampurkan, ia akan memberi rasa yang menyedapkan masakan.

Siapkah kita menjadi garam yang mampu membawa perubahan di sekitar kita?

Menuliskan pertanyaan tersebut, saya diingatkan kembali pada seruan seorang kawan yang menyatakan, “Saya merasa tidak punya apa-apa. Saya juga tidak tahu banyak untuk menjadi seorang kader. Namun, satu hal yang saya tahu. Ketika saya menyadari bahwa saya tidak tahu banyak, saya akan belajar banyak. Ketika saya menyadari bahwa saya tidak punya apa-apa, saya akan mencari untuk mendapatkannya.” (Tim Media)

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: