Susah yang Menggugah

Letusan Gunung Sinabung, Sumatra Utara, beberapa waktu lalu menyerukan pesan-pesan kemanusiaan. Gambar-gambar tayangan televisi menyedot simpati banyak orang.  

Termasuk kedatanganku di posko relawan ini. Awalnya hanya karena tugas dari perusahaan tempatku bekerja. “Ambil bagian dalam kemanusiaan,” kata pimpinan.

Sudah 5 hari aku bertahan di posko. Setiap hari aku menyaksikan wajah-wajah lelah, rengekan anak kecil, keluhan kurangnya air bersih, dan ... dan....

 

Perjumpaan

 Beberapa hari ini perhatianku mengarah pada seorang relawan. Namanya  Suwarno. Penampilannya selalu segar dan senyumnya selalu mengembang setiap kali menyapa pengungsi. Sosok yang menyenangkan.

Suwarno adalah anggota tim relawan bagian logistik. Tugasnya mengurusi makanan bagi 420 pengungsi, mulai dari memasak, membungkus, dan menyerahkan pada petugas pembagi. Namun, ia sering tampak ikut turun tangan membagi nasi bungkus. Sebenarnya, ia bisa menggunakan waktunya untuk istirahat.

“Kok tidak istirahat, Pak Warno?” tanya seorang teman.

“Belum, Mas. Istirahatnya nanti malam saja,” jawabnya.

Malam harinya, Suwarno dikitari anak-anak kecil. Ia mendongeng untuk anak-anak di pengungsian. Dongeng tentang kancil, atau tentang tokoh pahlawan nan ksatria. Dongeng-dongeng Suwarno menjadi pengantar lelap anak-anak.

Pagi-pagi buta Suwarno sudah bangun. Ia mengenakan celemek warna biru bertuliskan “Dengan Hati Melayani”. Ia menyiapkan sarapan untuk pengungsi. Nasi, telur dadar, dan mi goreng ia susun ke dalam satu bungkus.

Sementara jelang siang, kembali Suwarno mesti menyiapkan makan siang. Begitu pula ketika hari mulai gelap, santap malam harus ia siapkan. Melakoni itu semua, tak satu keluhan pun meluncur dari mulutnya.

Senasib

Penampakaan Suwarno sore itu agak lain. Sempat terdengar helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Seolah ia sedang mengusir beban di dadanya. “Teringat adik-adik saya, Mas,” ungkapnya.

Jadilah ia bercerita. Sembilan tahun lalu, ia mengalami situasi yang sama, tinggal di pengungsian. Areal perbukitan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat mendadak longsor. Hujan deras yang terjadi semalaman membuat bukit itu ambruk dan meluncur bersama air, meluluhlantakkan kampung tempat tinggalnya. Ibu dan ketiga adiknya meninggal tertimbun tanah.

Kebahagiaannya terkubur bersama gundukan tanah. Keinginan untuk membahagiakan ibu dan adik-adiknya serasa pupus, porak-poranda seperti tanah kelahirannya.

“Peristiwa yang tidak mudah dilupakan,” akunya.

Peristiwa itu menyisakan getir teramat dalam. Akan tetapi, justru karena itulah hatinya kini bisa menjadi merasakan apa yang dialami para korban bencana. Ia merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Dan, hal inilah yang mengantar langkahnya ke posko pengungsian ini.

Aku hanya terdiam tanpa mampu harus berkata apa. Tak pernah aku sangka sebelumnya jika seorang Suwarno yang selalu segar menyapa para pengungsi ternyata menyimpan kisah pilu.

Berada dalam posisi korban, orang mungkin punya cukup alasan untuk menjadi lemah dan tidak melakukan apa-apa. Tapi tidak bagi Suwarno. Peristiwa itu tidak membuatnya terpuruk, tapi justru membangkitkan sebuah komitmen untuk peduli pada orang lain.

Duka yang telah terjadi pada masa lalu justru menjadi energi yang membuatnya tak kenal lelah membantu sesama. Baginya, ini sebuah panggilan. Suwarno menerima itu sebagai sebuah anugerah. Gempa Yogyakarta, Merapi, dan Sinabung seolah menjadi ruang pengabdian bagi Suwarno.

 

Dipanggil

Hiruk-pikuk kehidupan posko Sinabung membuatku belajar banyak hal, terutama dari seorang Suwarno. Jujur, aku merasa malu. Keberangkatanku hanya berbekal surat jalan dari kantor dan secuil empati. Dengan bekal itu pun aku seolah  merasa kepedulian sosialku sudah naik setingkat lebih tinggi dibanding orang lain.

Namun, dari Suwarno, aku bisa belajar hal baru, melakukan sesuatu  karena “dipanggil”. Panggilan yang menyeru di batin, menggugat untuk bertindak nyata bagi orang lain.

Syukur, aku masih diberi kesempatan untuk membantu orang yang ada dalam kesusahan. Syukur pula untuk perjumpaanku dengan Suwarno, orang yang pernah mengalami kesusahan namun masih mau membantu sesama. Sudah susah tapi masih mau memikirkan kesusahan orang lain. Itikad baiknya menjadi inspirasi buatku. Dan itulah panggilanku. (Chris)

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: