Uang Cuma Titipan

Usia yang semakin bertambah tidak menyurutkan Edy Mustika (...?) untuk tetap berkarya. Tekadnya untuk menjadi orang sukses termotivasi dari kehidupannya di masa lalu.

 

Dandang dan panci

Edy memiliki pengalaman masa lalu yang sangat berharga. Saat belum mapan seperti sekarang, ia mengambil keputusan yang bisa dibilang berani. Ia mengakhiri masa lajangnya dan menikah.

Sebagai tempat bernaung, ia dan istrinya menyewa kamar kos. Perabot yang dipunyainya pun cuma dandang dan panci. Demi mencukupi kebutuhan hidup, ia berjualan kerupuk keliling. Keadaan berkekurangan ini malah menjadi daya lecut baginya untuk bergerak dari keterpurukan ekonomi.

Kegemarannya berbahasa Inggris membawa keberuntungan. Oleh rekannya, ia ditawari menjadi guru les privat bahasa Inggris. Ia menyambut peluang. Lulusan fakultas hukum ini pun tak menemui kesulitan.

Ia mendalami bahasa Inggris secara otodidak. Usahanya membuahkan hasil. Tak hanya satu atau dua orang yang belajar padanya. Makin lama makin bertambah banyak, ia pun memutar otak demi mangatur waktu.

 

Berkarakter

Sudah 18 tahun Edy menjadi guru bahasa Inggris. Jika dihitung-hitung, penghasilan sebagai guru les privat sudah lebih dari cukup. Namun, ia tidak puas kalau penghasilannya hanya bisa untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mulai memikirkan hari tuanya nanti. Ia pun memulai usaha yang lain, beternak love bird.

Hingga kini, sudah 5 tahun Edy menekuni usaha ternak burung tersebut. Awalnya cuma sekadar hobi. Begitu melihat adanya peluang yang menjanjikan, ia menjadikan hobi tersebut sebagai ladang penghasilan.    

Apa yang menjadi prinsip Edy dalam berwirausaha?

Edy memiliki prinsip utama yang selalu ia pegang. “Untuk bisa mencapai sukses, seseorang harus memiliki sikap inovatif, berani, dan berkarakter,” ucapnya.

Tidak hanya di Jember, Edy juga memiliki usaha di kota asalnya, Madura. Ia mengembangkan beberapa usaha, misalnya pertanian tebu dan peternakan kambing.

 

Berbagi rejeki

Menjadi anggota CU Mandiri selama 7 tahun, membuat Edy tergerak untuk turut mengembangkannya. Edy mengajak keluarga dan kerabat untuk bergabung dengan CU Mandiri. Ia pun menggunakan produk simpanan maupun pinjaman sesuai dengan kebutuhan.

Banyak hal yang membuatnya mantap di CU Mandiri. Ia merasa CU Mandiri berbeda dengan lembaga keuangan lain, terutama dalam rasa kekeluargaannya. “Saya bertahan di CU Mandiri sampai sekarang karena layanannya mudah dan sangat kekeluargaan,” ungkapnya.

Nilai kekeluargaan itu yang dibawa Edy sampai sekarang. Usaha pertanian dan peternakan yang kini kian berkembang, tidak dinikmati sendiri. Semua kerabat di Madura diajak untuk ikut serta mengembangkan usaha. Pengelolaan dipercayakan pada mereka. Ia berharap dapat membantu kerabatnya dengan membuka kesempatan bekerja.

“Saya ingin berbagi rejeki, salah satunya dengan membagi kesempatan mengelola usaha,” ungkapnya.

Banyaknya bisnis yang ia geluti tak membutakan sikap sosialnya. Materi memang penting, namun itu hanya duniawi. Ia ingin dirinya berguna untuk orang lain. Selain membantu kerabat di Madura, ada satu impian lagi yang masih belum dicapainya, ia ingin membangun sekolah gratis di daerah pelosok.

Baginya, materi bukanlah satu-satunya yang utama. Masih ada banyak hal yang membuat hidupnya bisa lebih hidup. Ia pun tak takut berkekurangan. “Uang cuma titipan. Saya tidak pernah takut kekurangan, karena rejeki sudah diatur untuk orang yang mau berusaha,” pungkasnya. (Kiky)

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: