Mak Nah, Nurani, dan Himpitan Hidup

Orang biasa memanggilnya Mak Nah. Usianya terbilang senja. Tapi keuletan semangatnya patut diacungi jempol.

Di saat orang-orang seusianya lebih memilih menonton TV di rumah, Mak Nah justru sibuk beraktivitas. Dengan sepeda onthelnya, ia mengantar hasil cucian. Pakaian itu sudah disetrika, rapi dan wangi.

Selepas adzan magrib, Mak Nah kembali mengayuh sepeda. Ia berkeliling menjajakan jamu buatan tadi malam.

Mak Nah boleh dibilang orang berpikiran maju. Ia punya visi. Hari tuanya ingin ia jalani dengan tenang; tidak menyusahkan keluarga dan bisa tetap makan dari hasil keringatnya sendiri.

***

Hampir dua hari sekali Mak Nah muncul di kantor CU Mandiri. Ia menyisihkan hasil keringatnya, sedikit demi sedikit untuk ditabung. Banyak orang sudah mengenal sosok Mak Nah. Beberapa penabung lain pun tak merasa asing padanya.

Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu Mak Nah muncul di kantor CU Mandiri. Kedatangannya ditemani sepeda tuanya. Pakaiannya sederhana namun tampak bersih. Tangannya menenteng kantung plastik warna hitam.

Yang dilakukan selalu sama. Sebelum masuk, ia melepas sandal jepitnya. “Bu, dipakai saja!” tegur petugas satpam waktu itu. Mendapat teguran itu, ia menjawab, “Biar, Pak, sandalnya kotor.”

Tubuhnya yang kecil pendek nyaris tak terlihat ketika berdiri di depan meja teller. “Selamat pagi, Mak! Mau nabung lagi, ya?” sapa petugas menyambut kedatangannya hari itu.

“Tidak, Mbak! Saya hanya mau menyerahkan ini,“ sahutnya sembari menyerahkan buku tabungan. “Di dalam ada uangnya,” imbuhnya.

Petugas membuka buku tabungan tersebut. Tampak beberapa lembar uang merah  di dalamnya. “Ini punya siapa, Mak?“ tanya petugas.

***

Mak Nah menceritakan, seperti biasanya, selepas adzan magrib, ia berkeliling mengayuh sepeda, berjualan jamu. Kakinya mulai terasa pegal, masih ada beberapa tempat yang harus dikunjungi. Sementara itu, suasana mulai gelap petang itu, mendung. Kendati demikian, mata tuanya masih bisa memastikan  ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah  buku kecil dengan warna yang tak asing baginya.

Buku itu sama persis seperti miliknya. Buku tabungan. Ia membuka karet pengikatnya. Beberapa lembar uang seratus ribu terselip di antara halamannya. Menurut ukurannya, uang itu banyak sekali. Beberapa kali dari yang bisa ia dapatkan dari hasil menjual jamu dan mencuci pakaian setiap bulannya.

Ia mencoba membuka-buka buku kecil itu. Berharap menemukan petunjuk pemilik tabungan itu. Ia sedikit menyalahkan dirinya, kenapa dulu tak mengindahkan anjuran almarhum suaminya,  mengikuti program kejar paket A.

Nama dan alamat yang tertera di sampul buku itu hanya terlihat deretan warna hitam baginya. Yang ia tahu, pemilik buku ini adalah anggota CU, sama seperti dirinya. Sederhana saja yang dipikirkan saat itu, “Ini milik saudaraku.”  

***

“Saya tidak tahu itu milik siapa. Saya lihat bukunya kok sama seperti punya saya. Maaf, Mbak, karena malam, baru pagi ini bisa saya kembalikan,” tutur Mak Nah.

“Baiklah, Mak! Buku dan uangnya saya terima dulu. Kami berjanji akan secepatnya menghubungi dan menyerahkan uang ini pada si pemilik. Terima kasih, ya Mak!” kata petugas tadi.

Mak Nah mengangguk dan undur diri. Semua orang di ruang layanan CU tersebut heran, takjub menyaksikan Mak Nah. Takjubnya lagi, karena mereka tahu bagaimana keseharian Mak Nah, tukang cuci dan penjual jamu keliling.

***

Mak Nah bukan tidak membutuhkan uang. Tapi, pada kondisi seperti itu, ia tidak kehilangan suara hatinya. Ia masih mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Mak Nah memenangkan pertarungan itu. Ia tetap memegang kejujuran dan ketulusan di atas segalanya.

Coba bandingkan dengan apa yang ada di sekitar kita! Di tengah kebutuhan hidup dan harga-harga yang melambung tinggi, begitu mudah orang tergiur uang, meski itu bukan haknya.

Di tengah himpitan kebutuhan dan gaya hidup, nurani setiap orang sepatutnya mendengarkan alasan polos Mak Nah saat ia menyerahkan buku tabungan pagi itu, “Saya takut membawa uang yang bukan milik saya.” (Chris)

Baca juga:

haru | 13 November 2015 - 16:35:32 WIB
terima kasih atas artikel anda yang menarik dan be
haru | 13 November 2015 - 16:36:20 WIB
bisa anda kunjungi di sini <a href="http://ps-ekos

Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: