Citra Lembaga Tergambar di Wajah Anggotanya

Pada acara rapat anggota perwakilan (RAP), di sela-sela istirahat makan siang, mencuat sebuah pertanyaan dari seorang ibu, “Kenapa tahun ini tidak ada kegiatan family gathering seperti yang lalu, ya?” 

Menilik perjalanan CU Mandiri yang selalu akrab dengan anggota melalui aneka kegiatan, rasanya bukan tanpa alasan jika pertanyaan tersebut muncul dari anggota. Ini semata karena CU Mandiri telah menjatuhkan pilihan identitas dirinya sebagai “kumpulan orang”. Jadilah, momen kebersamaan sering dijadikan basis pengalaman untuk saling bertemu, berinteraksi, dan berbagi.

 

Kedekatan yang intim

Pertanyaan seorang ibu pada acara RAP di atas merupakan sebuah ungkapan kerinduan. Kerinduan pada hadirnya wajah asli dari figur CU yang selama ini ia kenal dan ia alami secara dekat.

Bukan mau melebih-lebihkan! Sebagai sebuah lembaga yang berbasis anggota, CU Mandiri memang memberi ruang yang sangat terbuka bagi semua insan CU untuk menjalin kedekatan satu dengan yang lain, antaranggota dan antara anggota dengan lembaganya. Lebih jauh lagi, sikap terbuka ini disadari demi membangun suatu harmoni dalam memperjuangkan keadilan bagi semua.

“Luar biasa!” ungkap seorang teman yang bekerja di salah satu instansi. “CU Mandiri bisa mengumpulkan anggotanya, yang sudah ribuan, untuk hadir dalam suatu event. Sementara kami, tidak mungkin bagi kami mengumpulkan orang sebanyak itu,” lanjutnya. Event yang dimaksud teman itu adalah jalan sehat dan Rapat Anggota Tahunan.

Sambil membiarkan teman tadi larut dalam keheranannya, saya menyahut, “Buat kami, aset bukan segala-galanya. Modal utama CU Mandiri adalah kepercayaan dan kejujuran.”

Ya, kepercayaan dan kejujuran dari anggota harus betul-betul dijaga! Jika hanya mau fokus mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya untuk membesarkan lembaga, sejatinya CU Mandiri sedang mengkhianati anggota.

Keuntungan juga mesti dinikmati oleh anggotanya. Bukan cuma lembaganya saja yang gendhut. Nah, untuk itulah CU Mandiri menawarkan aneka bentuk kegiatan, seperti training, studi banding, serta family gathering. Kegiatan bertema kebersamaan ini masih didukung dengan fasilitas lain. Misalnya,  asuransi permata, dana rawat inap, serta dana suka maupun duka.

Singkatnya, CU Mandiri yakin bahwa semakin sejahtera anggotanya, semakin berkembang pula lembaganya. Itu semua sangat dimungkinkan bila ada sebuah hubungan yang intim. Yakni, hubungan yang mengarah pada pembangunan manusia yang sejati dan seutuhnya.

 

Menjadi lebih baik

Jika dengan bersama kita bisa menjadi lebih baik, mengapa harus berjalan sendiri-sendiri. Di sini nilai kesetiaan rasanya tepat menjadi ukuran dalam memaknai sebuah kesuksesan.

Setia ketika semuanya baik dan menyenangkan memang mudah. Namun, berlaku setia ketika sesuatu dirasa mulai berbeda atau bahkan tidak menguntungkan, kiranya menjadi tantangan tersendiri. Demikian halnya kesetiaan anggota kepada CU Mandiri dan sebaliknya.

Akankah kita bisa selalu bersama?

Bersama tidak berarti selalu “bersama-sama”. Bersama lebih menegaskan pada makna satu tujuan, satu visi. Dasar dari itu semua adalah kepedulian sosial yang bermuara pada rasa saling memiliki demi kesejahteraan bersama.

Oleh karena itu, berjalan bersama berarti terbuka untuk melakukan perubahan orientasi, meningkatkan nilai hidup; dari mental bergantung menjadi mandiri, dari sekadar bergabung di CU Mandiri menjadi mampu mengelola keuangannya secara benar, dari berpikir hanya untuk jangka pendek menjadi memiliki perencanaan jangka panjang.

Demi mimpi

Perjalanan CU Mandiri hingga saat ini tentu bukanlah perjalanan yang mudah. Ada situasi di mana mesti bertahan dan berjuang. Orang melihat bahwa CU Mandiri tetap eksis hingga saat ini. Namun, pertanyaannya adalah apakah orang-orang yang bergabung di dalamnya turut bangga memilikinya?

Terbangunnya citra diri yang positif dari seorang anggota yang sekaligus pemilik tentu memberi pengaruh yang sehat dalam membangun usaha CU Mandiri ke depannya. Jika demikian halnya, kita dapat bersama-sama peduli pada sesama anggota yang lain, menempatkan diri secara tepat dalam fungsi sebagai anggota dan pemilik, dan terbuka terhadap perubahan.

 “Jangan nabungnya di bank, lalu pinjamnya di CU Mandiri!” seru salah seorang anggota pada rapat kerja. Ia mengomentari kecenderungan anggota CU yang hanya tergiur oleh keuntungan pribadi karena bunga di CU lebih ringan.

Benar sekali! Jika seseorang hanya memikirkan untung untuk dirinya sendiri dan merugikan lembaganya, ia sudah lupa keberadaannya sebagai seorang Pemilik CU.

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: