CU Mandiri: Bukan Melulu Uang

Suatu hari, seorang teman bertanya, “Apakah mungkin sebuah Credit Union (CU) mengelola usaha di luar simpan dan pinjam, misalnya dengan membuka usaha seperti swalayan?”

“Tidak!” sahut saya tegas.

Teman saya sempat bingung, mengingat uang yang ada di CU sangat memungkinkan untuk membuka usaha lain di luar usaha simpan dan pinjam uang. “Kan secara bisnis itu menguntungkan?” lanjutnya.

Saya menjelaskan, jika CU juga mengelola usaha lain, ia mengingkari fungsinya sebagai lembaga pemberdayaan. Sebab, yang dipikir hanya melulu bisnis, melulu uang.

“Lalu, di mana kekhasan CU?”

 

Spirit Community of Life

Ketika CU Mandiri didirikan oleh para pendiri, tujuannya adalah membantu orang agar bisa menolong dirinya sendiri untuk keluar dari permasalahannya.

Mereka sadar, jika memberi bantuan uang dengan cuma-cuma, persoalan tidak akan pernah selesai. Sebab, uang akan cepat habis. Model pemberian demikian juga tidak memartabatkan seseorang, karena ia dianggap tak berdaya. Padahal, manusia dianugerahi daya akal budi dan kemampuan oleh Sang Pencipta untuk berkreasi.

Oleh karena itu, sangatlah mendasar jika tujuan yang dibangun oleh para pencetus dan pendiri CU Mandiri perlu terus dijaga. Yakni, agar nilai-nilai keswadayaan, solidaritas, dan saling percaya tidak luntur. Sebab, roh inilah yang membuat CU Mandiri bisa bertahan hingga sekarang.

CU Mandiri, sebagai Community of Life, secara sederhana bisa disejajarkan dengan komunitas pemberdayaan hidup. Maksudnya, komunitas sebagai basis CU perlu terus memperjuangkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang menghargai kehidupan melalui sebuah kedekatan, kebersamaan, keterbukaan, dan kepedulian.

Sebagai lembaga yang memberikan pelayanan di bidang jasa keuangan, CU Mandiri membantu agar anggotanya dapat memberdayakan dirinya guna mencapai tujuan keuangan. CU Mandiri berkomitmen menjadikan dirinya sebagai sarana yang membebaskan anggota dari kesulitan ekonomi sekaligus mengangkat martabat demi menuju hidup yang lebih berkualitas dan bermakna, dalam dan melalui komunitasnya.

 “Kiranya itulah yang dimaksud dengan membantu orang agar dapat menolong dirinya sendiri. Memahami tujuan, impian, dan aspirasi hidup mereka. Uang hanyalah sebuah sarana untuk mencapai tujuan. Uang bukanlah tujuan!” tegas Sr. Linda, SPM yang sekarang menjadi penerusnya.

 

Mengelola orang

Dalam satu kesempatan Pendidikan Dasar Anggota (PDA), seorang peserta bertanya, “Jika saya memiliki BPKB atau sertipikat, berapa nominal yang bisa saya terima ketika mengajukan pinjaman?”

Pertanyaan sederhana tersebut berlanjut menjadi  bahan diskusi di kalangan staf: Apakah CU Mandiri sudah dilihat cenderung bergeser menjadi lembaga pemberi pinjaman? Mengapa anggota lebih memilih keluar ketika pengajuan pinjamannya tidak dikabulkan?

Kiranya, pola pandang tersebut memberi gambaran umum bahwa CU masih dilihat tak beda dari sebuah lembaga pemberi pinjaman yang cuma memikirkan uang melulu.

 “Situasi di atas tak jarang membuat orang terjebak pada urusan bisnis melulu,” demikian kekhawatiran Suster Linda.

Pada pola pandang ini, orang lebih memikirkan pertumbuhan yang signifikan. “Ini tak sepenuhnya salah! Namun, bisa dibayangkan! Jika orientasi CU hanya pada maksimalisasi target, maka ia akan kehilangan karakternya,” tandasnya.

Selaku GM CU Mandiri, Suster Linda ingin mengajak semua anggota untuk terus menjaga agar CU Mandiri tidak kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pemberdayaan.

Cara itu ditempuh dengan meningkatkan solidaritas dan keswadayaan. Keswadayaan yang bukan hanya mau mengacu pada perilaku yang tidak merepotkan orang lain. Lebih dari itu, keswadayaan mesti sekaligus membangun orientasinya ke masa depan. Demikian pula halnya dengan solidaritas. Ia bukanlah sekadar sikap mau berbagi, melainkan kerelaan berbagi yang berorientasi pada kesejahteraan bersama.

 

Kesejahteraan bersama

Anda susah kami bantu. Kami susah Anda bantu.” Inilah motto yang selalu didengung-dengungkan CU.

Motto tersebut tentunya bisa menginspirasi semua orang untuk saling peduli antaranggota, antara lembaga dan anggotanya, dan sebaliknya antara anggota dengan lembaganya, dalam satu ikatan komunitas CU Mandiri.

“Saya tahu susahnya mempertahankan CU yang sudah besar seperti CU Mandiri. Mendirikan itu lebih mudah daripada mempertahankan,” demikian ungkap seorang penasihat CU Mandiri. Maka, setiap orang perlu mendukung dengan memelihara apa yang sudah dimulai dan tidak minta diistimewakan.

“Semua yang sudah dilakukan dengan sistem yang ada bertujuan untuk kesejahteraan bersama seluruh anggota,” tambahnya.

Memang benar, tujuan akhir didirikannya CU Mandiri adalah demi semakin banyaknya orang menjadi sejahtera. Menjadi sejahtera tentunya bukan dengan menunggu rejeki datang dengan sendirinya. Selagi kita dianugerahi kemampuan, kita perlu berupaya. Salah satunya dengan menata keuangan kita.

Dengan penataan keuangan yang benar dan terencana, harapannya setiap orang bertumbuh, baik secara fisik, moral, dan spiritual. Dalam hal ini, CU Mandiri menyediakan fasilitas atau sarananya, sementara anggota menggunakannya agar bisa mencapai tempat tujuan keuangan mereka.

Berdaya itu belajar

Spirit community of life menjunjung tinggi upaya pemberdayaan hidup. Hidup yang berdaya senantiasa mengacu pada keterbukaan pada “komunitas” tempatnya berinteraksi dan hidup. Menggapai “hidup yang berdaya” bukanlah proses sekali jadi. Untuk bisa berdaya diperlukan kesediaan diri mau belajar dari dan dalam hidup.

“Bila masuk menjadi anggota CU Mandiri, orang harus sekolah dulu, ikut pendidikan dulu. Tadinya, saya enggan ikut. Kan saya sudah tidak muda lagi. Saya malu sekolah lagi. Tapi, karena syarat untuk menjadi anggota harus ikut PDA, akhirnya saya ikut dengan terpaksa. Wah, ternyata tidak rugi! Saya diajari bagaimana membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga. Sekarang saya jadi tahu, usaha toko saya untung atau rugi,” kisah salah seorang peserta PDA. (Tim Redaksi)

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: