Dunia Tak Seluas Gunung di Atas Kertas

Di sebuah acara seminar, seorang fasilitator sedang memulai sesinya, “Sekarang, silakan Anda menggambar sebuah pemandangan di lembar kertas yang telah dibagikan pada Anda! Silahkan kerjakan!”

Tak satu pun peserta mengelak dari aba-aba itu. Semua sibuk menggambar.

Lima menit berselang, fasilitator memberi isyarat bahwa waktu usai. “Sekarang, angkatlah gambar Anda!” serunya.

Seluruh peserta taat. Mereka saling memperlihatkan kreasi pemandangannya. Sang fasilitator menyapukan pandangan ke gambar-gambar yang ada. “Hampir 90% gambar pemandangan yang Anda buat adalah berbentuk gunung. Ini berarti hanya sedikit yang menggambar selain gunung. Anda tahu mengapa?”

“Ya sedari kecil sudah diajarkan begitu!” jawab beberapa peserta serentak.

Sederhana sekali jawaban itu. Dan, memang itulah kenyataannya!

Sejak masuk dunia sekolah, kita mendapati bahwa tiap kali guru pelajaran menggambar menitahkan untuk menggambar pemandangan, ya selalu gunung! Kok demikian? Mungkin, guru-guru waktu itu bisanya cuma menggambar gunung! Atau, jangan-jangan mereka juga senasib dengan kita; ketika sekolah mereka pun diberi pengajaran yang sama oleh guru menggambarnya, pemandangan ya sama dengan gunung. Mungkin.

 

Cara pandang

Perintahnya sama, hasilnya bisa beda. Ini terjadi karena masing-masing punya cara pandangnya sendiri-sendiri. Dalam buku Filosofi Air, Elis Handoko menyebut cara pandang itu sebagai perspektif, “sering kali perspektif inilah yang lebih menentukan suatu penghayatan, sikap, dan tindakan.”

Adanya perbedaan cara pandang menyadarkan kita bahwa manusia memiliki kebebasan dalam memilih. “Bisa saja dua orang mengalami peristiwa yang sama, tetapi masing-masing memilih mengambil sikap yang berbeda terhadapnya. Yang satu dapat memilih sikap yakin bahwa peristiwa itu mengandung sesuatu yang menjanjikan meskipun rasanya sakit. Yang lain dapat memilih putus asa dan membiarkan diri dihancurkan olehnya,” tulisnya.

   Menarik, kebebasan kita dalam memilih ternyata menentukan perolehan hidup kita.

Mari kita kembali ke ilustrasi menggambar pemandangan di atas!

Sah-sah saja bila kita ubah cara pandang kita tentang pemandangan. Artinya, tidak lagi berpikir bahwa pemandangan itu sama dengan gunung. Maka, pemandangan itu berarti bunga, buah, binatang, rerumputan, sungai, laut, ....

Wow, ini luar biasa! Seolah kita tengah melihat dunia yang lebih luas, dunia tanpa batas. Ternyata, dunia tak seluas gunung di kertas!

Langkah ini bisa saja kita jadikan pola dalam memandang masa depan, pekerjaan, dan segala sesuatu yang menyangkut hidup.

 

Selimut kenyamanan

Jika ditanya ‘bagaimana hidupmu’, kita sering menjawab ‘yah, cukuplah’. Lalu, ‘bagaimana pekerjaanmu’, kita menimpali ‘sejauh ini lancar-lancar saja”.

Jawaban yang “datar-datar saja” ini melukiskan isi dan cara pandang pikiran kita. Perlu diingat, apa yang hidup di pikiran akan berpengaruh dalam tutur kata, sikap, dan karakter kita.

Di sisi lain, sebenarnya ini merupakan sebuah sinyal bahwa kita perlu membuat terobosan baru untuk hidup kita. Terobosan untuk berani memutar haluan dari cara pandang lama yang cenderung kolokan. Kenapa tidak, apalagi kalau hal itu diyakini mampu membawa perubahan yang jauh lebih positif.

Dalam buku Change, Rhenald Kasali menyatakan, “Selama manusia merasa puas dan nyaman, perubahan sulit dilakukan.” Ia menyebut keengganan untuk berubah itu dengan istilah “memeluk erat selimut kenyamanan”.

Gambarannya seperti seorang anak kecil. Jika sudah memeluk selimut kumalnya, ia akan meringkuk dan mengisap jempolnya hingga tertidur pulas. Ia merasa nyaman dengan kondisi itu. Seakan-akan, ya itulah dunianya.

 

Putar arah

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda punya titik pandang positif dalam melihat setiap situasi hidup Anda? Atau, Anda merasa nyaman dengan “sesuatu yang datar-datar saja”, yang tanpa disadari telah membelenggu Anda?

Di mana pun posisi Anda, renungkanlah pesan Rhenald Kasali ini, “Tak peduli berapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putar arah sekarang juga!”(Chris)

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: