Hariyanto: Jalan Kaki yang Menyemangati

Senyum lebar menyertai Hariyanto(46) hari itu. Ia sedang melayani beberapa pembeli di toko miliknya. Ada yang membeli bahan pokok. Ada yang membeli alat-alat mandi. Ada juga yang sekadar membeli pulsa.

Itulah aktivitas harian Hariyanto, anggota Credit Union (CU) Mandiri TP Banyuwangi. Ketika pengunjung toko agak sedikit sepi, ia duduk, menghela, tersenyum, lalu mulai bertutur tentang hidupnya.

Perjalanan itu
“Saya membaca alam untuk hidup,”buka Hariyanto.
Ia terdiam sejenak. Pandangannya menerawang kelangit-langit rumah, mengingat masa mudanya. Lalu, ia melanjutkan cerita.
“Saya pernah berjalan kaki bolak-balik dari Banyuwangi ke Surabaya,” kenangnya pada pengalaman mengisi liburan sekolah bersama dengan seorang temannya. Tidak ada hal khusus yang dicari dengan melakukan perjalanan itu, ia cuma ingin belajar tentang hidup dari pengalaman itu.
Bekal yang ia bawa hanyalah 16 ribu rupiah. Selebihnya, dan ini yang paling penting buatnya, adalah restu ibu. “Asal tindakanmu benar dan tidak merugikan orang lain,” begitu Haryanto mengingat pesan ibunya.
Hariyanto butuh waktu sekitar satu bulan untuk melakukan petualangannya itu. Ia hanya berjalan kaki, tanpa naik bus, angkot, ataupun menumpang kendaraan orang. Untuk sekadar tambahan makan, ia lakukan dengan mengamen dari rumah ke rumah yang dilewati.
Pada akhir perjalanan, Hariyanto mendapatkan kesempatan mengisi acara Kenalan Baru di TVRI. Ia tak memperhitungkan honor. “Saya hanya ingin membagikan pengalaman pada kenalan saya,” simpulnya.

Jatuh
Kini, Haryanto tengah menikmati pekerjaannya bersama keluarga. Pekerjaan yang tidak menyita waktu. Ia bisa berkumpul dengan keluarga setiap hari dengan terus tetap dapat nafkah melalui usaha tokonya. Namun, dibalik usahanya yang lumayan sukses ini, terselip kisah jatuh bangun.
Dulunya, Hariyanto adalah pemegang proyek yang terbilang besar di Bali. Pendapatannya lebih dari cukup untuk menafkahi keluarga. Istrinya tak perlu bekerja sampingan. Era 90-an, usahanya bangkrut. Ia merugi hingga 380 jutaan rupiah. Semua asset dijual demi menutupi hutang. Istrinya jatuh sakit. Semangat hidup Hariyanto mengendur.
“Suatu ketika, saya teringat pada masa lalu saya, masa muda yang penuh semangat,” kenangnya. Ingatan ini membangkitkan dia untuk tetap menjalani hidup dengan sukacita. Ia memulai usaha membuka toko. Bermula dari toko kecil-kecilan, lalu berkembang maju seperti saat ini.
Apa peran CU Mandiri untuk kehidupan usaha dan keluarganya? Walau keanggotaannya baru berumur setahun, Hariyanto mengaku sudah merasakan keuntungan menjadi anggota. Kendati melakukan pinjaman,  ia masih menerima surplus hasil usaha (SHU) yang dialokasikan dari Jasa Simpanan dan Jasa Pinjaman. “Lebih enak pinjam di CU Mandiri, karena kembalinya ya ke kita juga,” ucapnya bangga.


Kiky

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: