Ngomongin Masa Depan di CU Mandiri

Ada beberapa sikap yang muncul ketika orang diajak memikirkan masa depan hidupnya. Ada yang acuh tak acuh. Mereka beralasan, masih merasa kuat, sehat, dan produktif. Toh masa depan selalu ada di depan! Masih jauh! Alhasil, mereka cenderung menunda-nunda. Mereka merasa hari ini sudah lebih dari cukup dan masih terbentang hari-hari mendatang untuk memikirkan hari esok. Ada pula sebagian orang yang menanti masa depannya dengan rasa cemas, takut, khawatir. Saking cemasnya, mereka takut berbuat sesuatu, kalau-kalau salah. Alih-alih menyiapkan masa depan, jangan-jangan malah membuatnya berantakan. Ragu, tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara itu, ada pula yang berpandangan lain. Sadar atau tidak, ketika seseorang menjalani hidup dengan sebaik-baiknya saat itulah ia sedang mempersiapkan masa depannya. Setiap hari mereka pergi ke sekolah, bekerja, mengurus rumah, berdoa, menabung. Mereka menganggap, kegiatan hidup sehari-hari ini sudah merupakan upaya menyiapkan hidup yang lebih baik di kemudian hari. Salah urus Ngomongin “masa depan” tak bisa lepas dari ngomongin “masa kini”. Akan tetapi, bagaimana mungkin ngomongin masa depan jika pada saat ini saja kita sedang mengalami kegagalan, kita tengah terpuruk? Masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang merupakan satu rangkaian kesempatan hidup. Ketika ngomongin yang satu, yang lainnya pun senantiasa terkait. Ambil satu contoh, misalnya, sikap yang kerap muncul ketika seseorang mengalami kegagalan. Ketika seseorang dihadapkan pada kegagalan hidup saat ini, tak jarang ia cenderung menyalahkan, menyesali, dan meratapi masa lalunya yang salah urus. Ada yang berandai-andai. Sekiranya bisa, ingin rasanya kembali ke masa lalu; memperbaiki kesalahan, merevisi keputusan, membenahi sistem kerja, dan seterusnya. Andai saja itu bisa terjadi! Tanpa disadari, mereka yang sibuk mengingat masa lalu akan merasa kurang percaya diri. Ketakutan dan keraguan selalu menjadi bayang-bayang yang menghambat dirinya dalam melangkah. Mereka lebih sibuk memikirkan kendala-kendala yang sesungguhnya belum mereka hadapi. Tak pelak, energi terkuras pada hal-hal yang tidak jelas. Dalam kondisi ini, kita perlu mengadakan penegasan ke diri: Cukupkah kita hanya terus-menerus mengkambinghitamkan masa lalu atas keterpurukan masa kini? Tidak beranikah kita menjadikan masa lalu sebagai batu pijakan untuk melangkah ke masa depan? Penegasan tersebut akan membukakan pintu optimisme untuk memulai sesuatu yang perlu. Yakni, langkah yang diperlukan agar bisa lebih fokus dalam menggapai tujuan hidup. Tawaran CU Mandiri Apa perolehan hidup Anda hari ini? Sejahtera, kurang sejahtera, atau tidak sejahtera? Berhasil, kurang berhasil, atau gagal? Apapun perolehan hidup kita saat ini, pastilah masing-masing dari kita tetap mempunyai mimpi ingin hidup damai sejahtera. CU Mandiri meletakkan mimpi setiap anggotanya lekat-lekat dalam setiap program layanannya. CU Mandiri senantiasa mengajak, menggandeng, dan merangkul setiap anggota dan calon anggota untuk meraih masa depan yang diimpikan. Langkah konkret yang diambil CU Mandiri dalam membantu mewujudkan mimpi itu adalah menawarkan peluang melalui produk-produk simpanan dan pinjaman, program pendidikan, dan motivasi yang diharapkan dapat menjadi solusi yang bermanfaat bagi setiap anggota. Hal lain yang ditawarkan CU Mandiri adalah nilai kepedulian sosial. Dengan menyimpan dananya di CU Mandiri, secara otomatis mereka membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil. Sebab, dana yang mereka simpan akan bermanfaat bagi anggota sebagai modal usaha mereka. Harapan ke depan, CU Mandiri bisa menjadi media bagi usaha anggota. CU Mandiri ingin agar seluruh transaksi tidak lagi beredar keluar, melainkan di dalam dan antaranggota. “Di sinilah anggota dapat membangun jejaring dan mengembangkan kemitraan sehingga berkembang pola hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguatkan,” terang General Manager CU Mandiri, Sr. Linda, SPM. Butuh orientasi Peluang yang ditawarkan CU Mandiri tidak otomatis mengubah nasib hidup anggota. Sebagus apapun peluang yang ditawarkan tetaplah membutuhkan respon positif dari anggota. Setiap anggota diajak menangkap tawaran CU Mandiri tersebut sebagai sebuah “peluang” menyiapkan masa depannya. Ternyata, perjalanan menggapai peluang mimpi pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada saja kendala, ada saja tantangannya. Tidak dimungkiri, kendala muncul bukan hanya sekali dua kali. Ada yang bilang, semua itu tergantung dari cara seseorang melihat. Ada yang menganggap, kendala bukanlah beban. Jenis ini adalah kelompok orang yang berjuang dengan orientasi pada tujuan hidup. Kalau dalam setiap usahanya orang memiliki orientasi pada tujuan hidup, impian pada masa depan itu akan menjadi suatu motivasi yang sangat istimewa. Ia akan memotivasi untuk berani bangun serta untuk lebih serius lagi dalam berusaha. Bahkan, orientasi pada tujuan hidup ini pun akan memperteguh daya juang seseorang. Hidup bak permainan Hidup tak selalu semulus yang dibayangkan. Kadang landai. Kadang bergelombang. Kadang pula terjal. Lalu, bagaimana menyikapinya? “Terkadang, ketika kita sampai pada suatu titik perjuangan yang berat, adagunanya jika kita tempatkan hidup ibaratnya seperti orang bermain,” ujar Suster Linda. “Untuk memenangkan sebuah permainan, kita perlu menikmati dulu permainannya, menguasai medan permainan, dan membuat sebuah strategi demi memenangkan permainan tersebut,” lanjutnya. Demikian halnya dengan hidup. Orang mesti melalui tahapan demi tahapan untuk bisa sampai pada tujuan atau masa depan yang diimpikan. Sebab, kemampuan dalam “menikmati hidup” itu dapat membantu seseorang untuk mengenali diri, mengetahui kekuatan serta kendala yang dimiliki. Itulah etos hidup! Dialah semangat yang mesti mengiringi dan menjiwai setiap perjuangan konkret harian kita dalam mengupayakan masa depan yang lebih baik. (Kiky)

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: