Bergantung, Tergantung, Menggantung...

Melewati jalur antar kota di wilayah Jawa Timur, khususnya di beberapa daerah  pegunungan yang ditebari tikungan tajam, kita akan berjumpa dengan sekian orang menadahkan tangan setelah sedikit melakukan “pertolongan”.

Mereka berdiri. Lalu, dengan bahasa tubuhnya memberi kode “aman” bagi pengemudi yang hendak melintas. Sebagai ucapan terimakasih, pengemudi mengulurkan rupiah ala kadarnya kepada mereka.

Dulu, jumlah mereka tak seberapa. Mereka pun hanya berada di titik jalanan dengan tikungan maut.

Seiring bergulirnya waktu, kini terjadi pergeseran fungsi, makin banyak yang menadahkan tangan di tikungan-tikungan jalan. Model mencari uang itu pun seakan-akan sengaja ditularkan pada anak-anak mereka. Akibatnya, sikap nyadong itu lambat-laun menjadi semacam budaya hidup dikalangan mereka.

 

Keengganan

Tindakan nyadong atau menadahkan tangan merupakan sebuah sikap hidup yang hanya mengandalkan pihak lain. Tangan yang nyadong seolah-olah menjadi simbolisasi dari kondisi seseorang yang selalu bergantung pada orang lain. Sebuah karakter pribadi yang enggan berbuat lebih dari sekadar menunggu apa yang orang lain lakukan atau berikan untuknya.

Meraih keberhasilan adalah harapan setiap orang. Ada banyak faktor yang membuat orang bisa berhasil dan mampu mencapai taraf kehidupan sosial-ekonomi yang lebih mapan. Sebenarnya, faktor dominan dari keberhasilan terletak pada diri sendiri.

Faktor pribadi tersebut meliputi bagaimana seseorang secara pribadi mau memotivasi diri dan mengelola apa yang ada pada dirinya, termasuk segala potensi dan kekurangannya.

Mengupayakan dengan sekuat daya yang ada padanya untuk menjadi pribadi yang mandiri dan berharga adalah bentuk ungkapan hidup dari seorang pribadi yang mampu memartabatkan diri.

Dalam paham demikian, maka sikap nyadong sebenarnya merupakan sikap yang kurang menghargai martabat diri manusia. Ia abai atau bahkan mengingkari bahwa dirinya adalah sosok berharga, bahwa dirinya berharga apa adanya selaku manusia. Dengan bekerja, berupaya, atau berkreasi guna menuju sesuatu yang baik dan luhur, di situlah seorang pribadi secara bebas mengungkapkan pengagungan nilai-nilai diri manusia.

 

Mandiri

Bekerja menjadi gerak menuju pemenuhan mimpi agar bisa hidup mandiri. Di sini “mandiri” dimaknai sebagai suatu bentuk komitmen hidup yang tidak bergantung pada orang lain, sebuah bentuk keteguhan hati untuk dapat berdiri sendiri.

Keinginan untuk bisa mandiri jika dibarengi dengan usaha tanpa kenal menyerah serta-merta akan memperteguh daya juang seseorang. Sementara itu, daya juang yang teguh dibutuhkan oleh setiap pribadi dalam menjalani dan menyikapi aneka situasi atau peristiwa hidup yang ditemukan dalam keseharian.

Dalam arus alur semacam itulah karakter kemandirian seseorang sedang dan terus dibangun hingga menemukan bentukannya yang kokoh dan menghasilkan buah yang baik.

Disadari, salah satu kekuatan  Credit Union (CU) adalah “swadaya”, artinya berani mengandalkan “kekuatan (tenaga) sendiri”. Dengan prinsip swadaya itu CU ingin menandaskan perjuangan gerakannya yang “dari, oleh, dan untuk” anggota. CU benar-benar dituntut sebagai suatu gerakan yang tidak melulu bergantung pada pihak lain. Sebab, “ketika pilar swadaya rapuh, bangunan CU juga akan runtuh”.

Prinsip swadaya CU juga mesti menjadi semangat hidup setiap anggotanya. Jika kita masih saja hidup dengan bergantung pada orang lain, tanpa mau belajar untuk mencoba mengupayakan kemandirian, maka kita akan menjadi pribadi yang rentan terhadap goncangan. Lalu, jika terjadi kegagalan, maka kita akan  cenderung menyalahkan; lingkungan yang tidak mendukung lah, situasi atau kondisi yang kurang memihak lah, atau seabrak alasan lain yang sebenarnya lebih merupakan ungkapan pembenaran diri.

Ingatlah, yang bertanggung jawab atas hidup kita ya diri kita sendiri! Bukan tetangga, bukan pula keadaan!

 

Meneruskan mimpi

“Saya ingin maju! Sepulang dari narik becak saya tidak langsung tidur. Saya mau mengelola waktu saya yang lain agar bisa menghasilkan lebih,” ungkap Hadis, seorang tukang becak.

Mimpi Hadis yang ingin meningkatkan taraf hidup keluarganya itu telah mendorongnya untuk mengajukan pinjaman ke CU Mandiri guna membuka toko pracangan di depan rumahnya. Sekarang, orang-orang di kisaran rumahnya tidak mengenal Hadis hanya sebagai penarik becak, tapi juga sebagai pemilik toko pracangan untuk kebutuhan sehari-hari. Taraf hidup keluarganya pun meningkat.

Mimpi mampu menggugah seseorang dari keengganan, kemalasan. Mimpi mampu menggerakkan seseorang dari kelesuan dan membangkitkan aspek pengharapan. Mimpi membuat orang terbangun dengan suatu pengharapan tertentu. Selanjutnya, pengharapan itu memotivasi dan membangunkan seseorang untuk berusaha menggapai sesuatu yang diangan-angankan agar tercapai.

Bermimpilah! Bangunlah dalam pengharapan! Gapailah mimpi-mimpi itu di atas pijakan kakimu sendiri.(Chris)

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: