Dari CU yang Berbasis Anggota Menuju CU yang Berbasis Komunitas

Suatu hari, ada yang melintas dalam benak saya: Sampai kapan Credit Union (CU) Mandiri akan bertahan? Akan dibangun menjadi lembaga seperti apa ia ke depannya?

Pertanyaan tersebut menyentak kesadaran saya, lebih-lebih ketika menengok sejarah yang dilaluinya. Dulu, CU ini bermodalkan hutang 15 juta rupiah. Kini, memasuki usianya yang ke-15, CU yang kantor pusatnya mangkal di Probolinggo ini memiliki aset milyaran rupiah. Wouw…, luar biasa!

Menakar sejahtera

Namun, bagi saya, bukan semata-mata angka tersebut yang mau diraih atau mau dibanggakan. Lebih dari sekadar yang nominal! Angka fantastis tersebut masih menyisakan pertanyaan yang mengusik: apakah dengan demikian orang-orang yang tergabung dalam CU Mandiri sudah menjadi sejahtera?
Buat saya, letak keberhasilan sebuah CU adalah ketika semakin banyak anggotanya hidup sejahtera. Lalu, siapa yang bertugas menyejahterakan anggota? Apakah Pengurus? Staf? Atau...?

Jawabannya adalah kita bersama yang tergabung sebagai anggota CU Mandiri. Sebab, CU Mandiri merupakan lembaga keuangan yang berbasis anggota. Secara bersama-sama dan saling bahu-membahu, setiap anggota terlibat aktif dalam memikirkan dan memperjuangkan kesejahteraan itu.

Kesejahteraan tidak mungkin diraih sendiri-sendiri. Kalau kita melihat dunia bisnis saat ini, kompetitor bukan lagi dilihat sebagai musuh yang membuat kita harus menyingkirkan dan membuat perlawanan sedemikian keras.

Orang yang berpikir cerdas justru menempatkan kompetitor sebagai partner. Mereka saling bekerjasama dan melengkapi satu sama lain demi meraih tujuan keberhasilan yang lebih besar.
Cara-cara itulah yang sekiranya bisa diterapkan dalam kinerja CU Mandiri. Ikatan pemersatu yang dibangun saat ini mesti mulai mengarah pada CU Mandiri sebagai lembaga keuangan yang berbasis komunitas.

CU Mandiri tidak cukup hanya mendasarkan pada basis anggota per anggota semata. Ia haruslah berbasiskan anggota dalam jalinan komunitas serta nilai-nilai kebersamaan yang ada di dalamnya.

Community of life

Ketika disebut “komunitas” sebagai basis CU Mandiri, konsep yang hendak saya sodorkan adalah “community of life”, atau secara sederhana bisa disejajarkan dengan makna kata “komunitas kehidupan”. Maksudnya, sebuah komunitas yang menjunjung tinggi sikap pemartabatan nilai-nilai hidup.

Model komunitas ini terinspirasi oleh semangat awal lahirnya CU, membantu orang miskin agar bisa menolong dirinya sendiri. Spirit community of life mau mempertegas apa artinya hidup sebagai saudara, yakni demi mencapai tiadanya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Usaha saling menolong dalam semangat persaudaraan ini akan semakin mengakarkannya sebagai sebuah komunitas kasih.

Melalui komunitas inilah kita akan bersama membangun kedekatan, kebersamaan, keterbukaan, kepedulian, dan nilai-nilai yang penting untuk diperjuangkan bersama. Gerakan memperjuangkan nilai-nilai ini dalam CU Mandiri dikenal dengan istilah community of life.

Ketika kesadaran bersama untuk memperjuangkan nilai-nilai ini hidup, maka orang kaya tidak lagi berpikir ulang untuk meletakkan uangnya di CU Mandiri. Alasannya, mereka tahu bahwa uang tersebut bisa bermanfaat bagi orang miskin untuk mengembangkan usahanya. Dengan demikian, visi komunitas (yang kaya tidak berkelebihan dan yang miskin tidak merasa berkekurangan) bisa menemukan perwujudannya.

Komunitas sebagai basis dalam gerakan CU Mandiri bisa dibangun di tingkat lingkungan atau tetangga yang berdekatan, unit kerja, pertemanan, hobby, atau jenis ruang pertemuan lain yang mungkin.

Sr. Linda, SPM

Baca juga:


Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: